SELAMAT DATANG DI BLOG DANIK LIA ISTIQOMAH

Rabu, 31 Oktober 2012



Kamus Broadcast
Akting : Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan.
Audio Visual : Sebutan bagi perangkat yang menggunakkan unsur suara dan gambar.
Art Director : Sebutan bagi pengarah seni artistik dari sebuah produksi.
Asisten Produser : Seseorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya.
Audio Mixing : Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle : Sudut pengambilan gambar.
Animator : Sebutan bagi seseorang yang beprofesi sebagai pembuat animasi.
Audio Effect : Efek suara.
Ambience : Suara natural dari objek gambar.
Broadcaster : Sebutan bagi seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran.
Background : Latar belakang.
Blocking : Penempatan objek yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Bridging scene : Adegan perantara diantara adegan – adegan lainnya.
Back Light : Penempatan lampu dasar dari sudut belakang objek.
Breakdown Shoot : Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara.
Bumper In : Penanda bahwa program acara TV dimulai kembali setelah iklan komersial.
Bumper Out : Penanda bahwa program acara TV akan berhenti sejenak karena iklan komersial.
Credit Title : Urutan nama tim produksi dan pendukung acara.
Chroma Key : Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai kebutuhan foreground dan background.
Cutting on Beat : Teknik pemotongan gambar berdasar tempo.
Clip Hanger : Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena ada jeda iklan komersial.
Cut : Pemotongan gambar.
Cutting : Proses pemotongan gambar.
Camera Blocking : Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Clear – Com : Sebutan bagi penggunaan head-set audio yang dihubungkan dengan ruang master control.
Channel : Saluran.
Crazy Shot : Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan.
Compotition : Komposisi.
Continuity : Kesinambungan.
Cross Blocking : Penempatan posisi objek secara silang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Crane : Katrol khusus untuk kamera dan penata kamera yang dapat bergerak keatas dan kebawah.
Clip On : Mikrofon khusus yang dipasang pada objek tanpa terlihat.
Casting : Proses pemilihan pemain lakon sesuai dengan karakter dan peran yang akan diberikan.
Close Up : Pengambilan gambar dari jarak dekat.
Desain Compugrafis : Rancangan grafis yang digambar melalui tekhnologi komputer.
Durasi : Waktu yang diberikan atau dijalankan.
Dimmer : Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya.
Disc Jokey : Sebutan bagi pembawa acara musik yang menayangkan video Klip.
Dissolve : Tekhnik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera.
Depth of Field : Area dimana seluruh objek yang diterima oleh lensa dan kamera muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh jarak antara objek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop.
Dialogue : Percakapan yang muncul dalam adegan.
Dramatic Emotion : Emosi gambar secara dramatis.
Editing : Proses pemotongan gambar.
Ending Title : Urutan nama yang dicantumkan pada akhir movie.
Engineering : Sebutan bagi pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah teknis penyiaran.
Establish Sho
t : Gambar yang natural dan wajar.
Extreme Close Up : Pengambilan gambar dari jarak sangat dekat.
Focus : Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati objek aslinya.
Final Editing : Proses pemotongan gambar secara menyeluruh.
Floor Director : Seseorang yang bertanggung jawab membantu mengkomunikasikan keinginan sutradara, dari master kontrol ke studio produksi.
Filter Camera : Filter yang digunakan untuk kamera.
Footage : Gambar – gambar yang tersedia dan dapat digunakan.
Hunting Location : Proses pencarian dan penggunaan lokasi terbaik untuk syuting.
Headset : Digunakan untuk dapat mendengarkan suara sutradara.
Hand held : Tekhnik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod.
Image : Simbol yang sesuai objek.
Jumping Shot : Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan.
Jimmy Jib : Katrol kamera otomatis yang digerakkan dengan remote.
Job Description : Deskripsi tentang jenis pekerjaan.
Jeda Komersial : Saat penayangan iklan komersial diantara acara televisi.
Job Title : Penamaan jabatan pada pekerjaan.
Konservatif : Serba teratur, tertib, dan apa adanya.
Kreator : Sebutan bagi seseorang yang menciptakan karya kreatif.
Lighting : Penataan cahaya.
Lighting Effect : Efek dari penataan cahaya.
Lensa Wide : Digunakan untuk memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Lensa Super Wide : Digunakan untuk sangat memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Long Shot : Gambar yang direkam dari jarak yang jauh. Biasanya digunakan dengan cara pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.
Master Control : Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada produksi untuk siaran live show maupun recorded.
Magazine Show : Rancangan acara dengan format majalah.
Main Object : Target pada objek utama.
Medium Close Up : Pengambilan gambar dari jarak cukup dekat.
Medium Shot : Gambar yang diambil dari jarak sedang.
Medium Long Shot : Pengambilan gambar dari jarak yang panjang dan jauh.
Monitor : Digunakan untuk memantau gambar.
Master Video : Video utama berisikan rekaman acara televisi yang siap untuk ditayangkan maupun disimpan.
Multi Camera : Sistem dari tata produksi audio visual yang syuting secara bersamaan dengan menggunakan sejumlah kamera.
Middle Close Up : Pengambilan gambar dari jarak sedang.
Master Shot : Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan saat melakukan editing.
Noise : Gangguan pada sirkulasi signal audio maupun video yang mengganggu program acara.
News Director : Direktur pemberitaan yang bertanggung jawab atas seluruh isi pemberitaan yang disiarkan secara aktual berdasarkan fakta.
Off Line : Proses editing awal untuk memilih gambar terbaik dengan time code dari berbagai stock shot sesuai dengan kebutuhan adegan. Hasil dari gambar tersebut ditransformasikan dalam bentuk workprint dengan EDL (edit decision List).
On Line : Proses akhir editing untuk menyempurnakan, mempercantik dan memperindah gambar setelah melalui proses off line.
Operet : Istilah populer untuk acara yang menggabungkan antara unsur fiksi, nonfiksi dan musik ke dalam suatu alur cerita.
Opera Musikal : Format acara yang menggabungkan unsur drama dengan musik.
Opening Scene : Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Biasanya adegan ini dikemas kreatif dan menarik untuk mendpatkan perhatian penonton.
Opening Shot : Komposisi sudut pengambilan gambar pada awal adegan atau acara yang dirancang khusus untuk menarik perhatian penonton.
OB Van : Outside Broadcasting Van, mobil khusus yang membawa perangkat tekhnis penyiaran audio dan video untuk memproduksi program diluar studio. Dapat juga digunakan untuk master control bagi siaran langsung.
Power Pack : Tempat khusu berbentuk boks yang berguna untuk pembagian arus daya listrik.
Panning : Pergerakkan horizontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya.
Property : Berbagai aksesori.
Program Directing : Penyutradaraan program televisi.
Programming : Tekhnik penyusunan program acara televisi yang ditayangkan secara berurutan.
Praproduksi : Berbagai kegiatan persiapan sebelum pelaksanaan produksi dimulai.
Paskaproduksi : Proses penyelesaian akhir dari produksi.Biasanya istilah ini digunakan pada proses editing.
Produser : Pimpinan produksi yang bertanggung jawab kepada seluruh kegiatan pengkoordinasian pelaksanaan praproduksi, produksi sampai paskaproduksi.
Rating : Perhitungan secara statistikal untuk mengukur tingkat popularitas program acara televisi terhadap penonton.
Rundown : Susunan isi dan alur cerita dari program acara televisi yang dibatasi oleh durasi, jeda komersial, segmentasi, dan bahasa naskah.
Run Through : Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara televisi yang disesuaikan dengan urutan acara sesuai dalam rundown.
Reportase : Sebuah laporan perjalanan atau liputan lapangan yang digunakan untuk mendukung data – data aktual dan faktual.
Retake : Pengulangan pengambilan adegan gambar.
Shot : Ambil Gambar.
Simply Shot : Gambar yang diambil dari sudut yang mudah.
Skill : Keahlian.
Set Up : Proses persiapan akhir sebelum produksi televisi dimulai dari set artistik, performer hingga masalah tekhnis siaran.
Stand By : Komando akhir yang menunjukkan bahwa seluruh komponen produksi telah siap untuk melaksanakan syuting.
Single Camera : Sistem dari tata cara produksi audio visual yang hanya menggunakan satu kamera.
Script Format : Format penulisan naskah acara baik untuk fiksi maupun nonfiksi.
Script Marking : Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan pada sutradara maupun pendukung produksi lainnya.
Stock Shot : Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk dijadikan pilihan pada saat gambar gambar tersebut memasuki proses editing.
Suspense : Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan – adegan yang menegangkan dan mengundang rasa was was bagi penonton.
Sound : Penataan suara.
Sound Effect : Efek suara yang diciptakan atau digunakan untuk mendukung suasana dari adegan.
Steady Shot : Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak, yang dapat dinikmati dengan posisi diam.
Switcher : Istilah populer bagi perangkat tekhnis untuk memindah-mindahkan pemilihan gambar dari berbagai stock shot maupun input kamera. Alat ini digunakan untuk syuting multi kamera.
Switcherman : Seseorang yang bertugas melaksanakan proses pemindahan gambar sesuai dengan komando sutradara.
Studio : Lokasi khusus tempat pelaksanaan kerja produksi berlangsung. Dapat untuk melaksanakan syuting (shooting studio) maupun untuk editing (post production studio).
Selling Point : Berbagai komponen yang mempunyai nilai jual untuk mendapatkan perhatian penonton maupun sponsor.
Sound Mixer : Mixer pengendali dari berbagai input suara yang dipilah melalui sejumlah jalur (track).
Slow Motion : Pergerakkan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan alur cerita.
Technical Director : Pengarah / Direktur tehnik.
Trend Setter : Gaya hidup ataupun budaya pop yang menjadi acuan dan ukuran sesuai dengan masa atau zaman.
Take : Istilah yang digunakan untuk dan pada saat pengambilan gambar berlangsung. Dapat juga digunakan sebagai catatan pada naskah.
Two Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada dua objek yang dituju.
Three Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada tiga objek yang dituju.
Trik : Tata cara kreatif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Team builder : Seseorang yang mampu membangun sebuah kerjasama antara anggota team dengan baik untuk mencapai tujuan.
Theme Song : Lagu khusus yang diciptakan atau dipakai sebagai pendukungikatan emosi dari program acara kepada penonton.
VTR : Video Tape Recording.
Very Long Shot : Gambar yang diambil sangat jauh.
Voice Over (VO) : Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita namun tidak tampak dilayar televisi.
Video Klip : Video musik.
Video Jockey : Julukan bagi presenter acara musik televisi yang menayangkan berbagai video klip.
Vision Mixer : Sebutan lain untuk istilah populer “switcher”.
Wireless Camera : Kamera yang menggunakan transmisi signal untuk mengirimkan hasil gambar tanpa menggunakan kabel.
White Balance : Prosedur untuk mengkoreksi warna gambar dari kamera dengan mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum cahaya. Umumnya prosedur ini menggunakan cahaya putih sebagai dasar.
Webisode : Istilah episode televisi yang ditayangkan melalui video web streaming internet.
Wardrobe : Berbagai aksesori pendukung kostum bagi peran – peran tertentu.

Minggu, 21 Oktober 2012

10 jalan Bangkit dari Gagal



Setiap manusia pasti pernah merasakan kegagalan, kekecewaan, kemunduran, dan sejenisnya, hayyo jujur... siapa yang seumur hidup belum pernah merasakan apa yang dinamakan gagal, mundur, futur?
Nah, sesungguhnya salah satu perbedaan antara pemenang dan pecundang ada pada sikap dalam merespon kegagalan. Seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah merasakan kegagalan, namun mereka mampu bangkit dari kegagalan yang dialaminya sekaligus menjadikan peristiwa kegagalan itu sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Mereka mampu mengatasi tekanan berat dari peristiwa kegagalannya tersebut.
Sedangkan pecundang melakukan hal sebaliknya, mereka menjadikan kegagalan sebagai kambing hitam alias alasan untuk tidak meneruskan perjuangannya. Aha! Beda sikap banget kan Sob?
Hampir semua orang sukses pernah mengalami kegagalan. Memang sih... mengalami kegagalan itu sangat tidak menyenangkan. Namun di balik kegagalan tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Jika seorang mampu mengatasi kegagalan dan bangkit dari kegagalan tersebut, pintu kesuksesan akan semakin terbuka lebar, pola pikir kita pun akan semakin maju dan dewasa dalam menghadapi setiap persoalan.
Makanya, berikut beberapa tips untuk bangkit dari kegagalan, moga bermanfaat:
1. Terima Kenyataan
Tidak banyak orang yang mau mengakui dirinya gagal , makanya banyak yang tidak bisa bangkit dan terus
membohongi diriya sendiri. Tidak perlu mencari kambing hitam untuk disalahkan sebagai penyebab kegagalan. Kita sendirilah yang bertanggungjawab atas setiap kegagalan yang terjadi. Menyalahkan situasi atau orang lain hanyalah usaha untuk melarikan diri dari kenyataan. Dengan menerima kenyataan, kita dapat menyusun ulang rencana-rencana baru. Kita harus menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Dengan menerima kenyataan, masukkan dan saran dari luar dapat kita terima dengan pikiran yang lebih terbuka
2. Kembali ke titik nol
Titik nol adalah saat di mana semangat kita sedang besar-besarnya. Saat itu, begitu banyak ide di kepala kita. Daripada hanya diam meratapi kerugian yang kita derita, lebih baik bawa pikiran dan semangat kita seperti awal mula kita hendak melangkah. Pikirkan kembali hari-hari yang membuat kita bersemangat dan tidak sekedar menunggu untuk segera memulai. Hal ini akan merangsang kita untuk bergerak kembali!
3. Mengintip keberhasilan
Bayangkan hasil akhir jika rencana kita benar-benar dijalankan, dan kita telah meraih kesuksesan. Bayangkan pula berapa banyak orang yang ikut tertolong dengan kesuksesan yang kita capai. Simpan hal tersebut di dalam pikiran kita. Visualisasi seperti ini baik untuk mensugesti diri kita agar tidak putus untuk berusaha, tidak mudah menyerah karena keberhasilan yang akan kita raih bukan untuk diri kita sendiri, lebih luas lagi ada orang-orang yang ikut menikmatinya.
4. Selalu merasa beruntung
Terkadang kita merasa menjadi orang yang paling terpuruk karena gagal melakukan sesuatu. Apalagi kita merasa sudah melakukannya dengan segenap kemampuan dan materi yang kita miliki. Buang jauh-jauh perasaan seperti itu! Lalu tengoklah di sekitar kita, orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Mereka terpuruk dan tidak punya kemampuan apa-apa. Kita memang belum mencapai kesuksesan, tapi kita punya modal untuk sukses, yaitu pengalaman, kemampuan, dan kemauan untuk kembali bangkit.
5. Buat daftar kesuksesan
Buat daftar kesuksesan kita sendiri, tidak peduli kesuksesan besar atau kecil. Jangan sekadar mendata kesuksesan besar dalam hidup. Kesuksesan kecil pun dapat membawa pengaruh yang signifikan. Kegagalan adalah bagian dari pencapaian kemajuan atau pertumbuhan. Dari daftar tersebut kita akan mengetahui bahwa kita pun pernah melakukan keberhasilan meskipun kecil, dan di hari esok kita akan buat keberhasilan yang lebih besar lagi.
6. Terima masukan dari orang lain
Diskusikan apa yang membuat kita gagal dan dengarkan pendapat mereka mengenai hal tersebut! Kita tidak pernah tahu dukungan seperti apa yang kita dapatkan: Mulai dari meredakan rasa putus asa, membangkitkan semangat hingga informasi yang bisa didapat.
7. Menulis jurnal
Jarnie Pennebaker, psikolog dari University of Texas menjelaskan bahwa mencatat kegiatan bisa menunjukkan letak kegagalan kita. Bisa juga membantu menghilangkan rasa kecewa dan stress yang berlangsung. Dengan menuliskan jurnal pribadi, kita juga bisa diingatkan kembali atas kesalahan apa saja yang telah dilakukan di masa lalu dan belajar untuk tidak mengulanginya.
8. Mencari hal baru
Jika kita tidak lagi bersemangat melakukan sesuatu, berhentilah! Lisa Manterfield mengungkapkan bahwa manusia berubah-ubah. Hasrat terhadap pekerjaan seringkali berubah. Luangkan waktu untuk memikirkan langkah dan pastikan kita menyukai apa yang sedang dikerjakan meskipun penghasilannya tidak seberapa. Terkadang kebahagiaan dan rasa nyaman membuahkan hasil kerja yang lebih maksimal.
9. Alihkan kesedihan dengan melakukan hal yang positif
Cobalah alihkan kesedihan, kekecewaan, dan rasa sakit hati dengan menyibukkan diri melakukan hal-hal yang positif meskipun sederhana. Misalnya menyapu halaman rumah, menyiram tanaman di kebun, membaca buku-buku yang menarik, dan lain sebagainya.
Lakukan juga sesuatu yang berharga untuk orang lain. Bantulah orang lain. Layanilah orang lain. Kemudian lihatlah bagaimana kita bisa bermanfaat dan dapat menolong orang lain. Setelah itu berpikir dan merenunglah sejenak betapa kita mampu memberikan banyak manfaat dan dapat menolong banyak orang, sekarang waktunya kita menolong DIRI SENDIRI dari keterpurukan!
10. Yakinkan diri bahwa Kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti
Adakah bayi yang langsung bisa berjalan dengan normal? Setiap bayi pernah merasakan jatuh ketika belajar berjalan. Yang membuat bayi pada akhirnya bisa berjalan normal adalah kegigihannya untuk tidak pernah berhenti mencoba berjalan kendati pun seringkali tersungkur. Jadikanlah diri kita layaknya seorang bayi yang baru belajar berjalan, jatuh/ gagal adalah proses pembelajaran sampai kita benar-benar berhasil. Yang terpenting bukan berapa kali kita jatuh melainkan seberapa kuat mental kita untuk kemudian bangkit kembali setelah kejatuhan tersebut.
Optimis dan bersemangatlah dalam menyambut tiap hari yang datang. Kegagalan dan keterpurukan hanyalah masa lalu jika kita tidak melulu mempermasalahkannya! Ada hari cerah yang menanti kita, namun sayangnya hari cerah itu tidak mungkin kita temui jika kita memutuskan untuk berhenti berjalan, berhenti berusaha, berhenti tersenyum, dan berhenti berharap.
Sumber: mix dari http://id.shvoong.com dan MediaBangsa.com 

Senin, 15 Oktober 2012

6 Cara Memotivasi Diri Sendiri



Rabu, 26 Oktober 2011 08:28
never_gu1011Apakah Anda merasa kesulitan untuk mencapai tujuan hidup Anda, bahkan saat Anda tahu tujuan itu sangat berharga? Mungkin  Anda sudah mencoba mendorong diri sendiri untuk maju dengan segala daya upaya, tetapi belum tercapai pula.

Alih-alih menggunakan kekuatan keinginan, Anda butuh motivasi dari diri sendiri. Dengan begitu, Anda tidak akan kehabisan energi dan Anda mungkin akan merasa menikmati kehidupan dengan lebih baik lagi.


Berikut adalah cara yang bisa Anda lakukan untuk memotivasi diri sendiri:


Sisihkan waktu untuk hal yang Anda sukai

Jika Anda bisa memilih hal-hal yang Anda akan lakukan, entah itu pekerjaan yang akan Anda lakukan atau jurusan yang akan Anda ambil di perguruan tinggi, pilihlah sesuatu yang akan Anda sukai dan nikmati. Dengan memilih pekerjaan yang memberi gaji lebih tinggi atau sebuah jurusan yang terdengar lebih bergengsi tidak akan membuat Anda termotivasi.

Bahkan saat Anda mengerjakan pekerjaan yang Anda benci, mungkin Anda masih bisa mengendalikan pekerjaan tersebut. Bisakah Anda meminta untuk dilibatkan dalam proyek baru yang lebih menarik? Bisakah Anda bekerja sukarela untuk membantu manajer Anda dengan sebuah proyek?


Berbangga dengan pekerjaan yang dijalani

Sebagian kegiatan mungkin terlihat sia-sia. Mungkin Anda hanya satu bagian kecil dalam pekerjaan yang besar dan sulit bagi orang untuk mengetahui apakah hasil kerja kita signifikan atau tidak. Namun kenyataannya hal itu membuat perbedaan, perusahaan Anda mungkin tidak akan merekrut Anda dahulu jika keberadaan Anda tidka diperlukan.

Lebih mudah untuk memotivasi diri sendiri saat kita bangga dengan apa yang kita kerjakan dan Anda melakukannya dengan kemampuan terbaik Anda. Apakah Anda membersihkan rumah atau berhadapan dengan pelanggan, Anda bisa secara sadar memutuskan untuk melakukan yang terbaik.


Pikirkan hasilnya

Dalam dunia yang ideal, setiap pekerjaan adalah imbalan itu sendiri. Tentu saja, hal itu tidak selalu terjadi. Anda mungkin memiliki banyak sekali pekerjaan di daftar Anda yang kurang menarik atau mengasyikkan tetapi Anda menginginkan untuk tetap melakukannya karena pekerjaan-pekerjaan itulah yang akan membawa Anda lebih dekat dengan tujuan Anda.

Mencoba berfokus pada hasilnya akan membuat kita lebih bersemangat. Misalnya saat Anda kesulitan mengerjakan skripsi, Anda bisa membayangkan kebahagiaan yang terbersit di wajah orang tua saat kita bisa lulus dan Mandiri setelahnya. Atau bayangkan uang yang Anda sudah tabung selama sekian lama bekerja bisa Anda gunakan untuk membeli sesuatu yang diidam-idamkan, seperti rumah, kendaraan atau tidak hanya berbentuk benda tetapi bisa berupa kepuasan abstrak seperti bertamasya, melancong ke tempat baru bersama keluarga dan orang yang dicintai.


Berhati-hati dengan penggunaan imbalan Anda

Sebagian orang memotivasi diri dengan imbalan: “Setelah aku menyelesaikan laporan  ini, aku akan menghadiahi diri dengan sebatang coklat”. Hal ini bisa membantu jika Anda harus mendorong diri untuk menyelesaikan tugas tetapi jika Anda melakukannya terlalu sering, Anda akan bergantung pada imbalan daripada motivasi alami Anda.

Berpikirlah tentang imbalan yang ada dalam pekerjaan itu sendiri: “Setelah aku menyelesaikan laporan ini, aku merasa lebih lega” atau “Menyesaikan laporan ini akan membahagiakan orang yang membacanya.” Daripada memandang pekerjaan sebagai kumpulan beban di agenda harian kita, mengapa tidak memikirkan tentang dampak nyatanya pada Anda dan orang lain?


Pelajari sesuatu yang baru

Kita semua adalah pelajar alami. Itulah bagaimana manusia bertahan hidup. “Belajar” tidak hanya bagi anak kecil dan siswa di sekolah. Belajar adalah sesuatu yang kita selalu lakukan sepanjang hayat. Jika Anda pernah berjuang untuk merancang sebuah software baru dan menemui momen inspiratif, Anda akan tahu betapa mengasyikkannya bisa terus belajar sesuatu yang baru.

Jika ada area spesifik dalam kehidupan yang membuat kita kurang termotivasi, itu lebih karena kita tidak percaya diri dalam melakukannya. Mungkin Anda membenci memasak, menulis, berolahraga atau pekerjaan lain karena Anda tahu Anda berjuang keras melakukannya dengan baik.Bersabarlah dalam belajar dan itu bisa membuat mtovasi lebih tinggi.


Tetap termotivasi saat bekerja

Anda mungkin termotivasi memulai pekerjaan baru tetapi jika perhatian Anda buyar setelah 5 menit, Anda akan berjuang untuk menjaga keberadaan motivasi itu. Setiap waktu Anda beralih ke hal lain (seperti Facebook atau ponsel Anda), Anda sedang mengganggu konsentrasi diri sendiri.

Tetap fokus pada satu hal di satu waktu bahkan jika itu berarti Anda harus memutuskan koneksi Internet dan memblokir situs yang mengganggu konsentrasi. Jika Anda terus menunda untuk memulai, itu akan memberi kesan bahwa pekerjaan itu akan menghantui Anda selamanya. (*/Akhlis) Sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/tips-bisnis/183-hrd/12259-6-cara-memotivasi-diri-sendiri.html