Farida: Sukses Meski Cacat
Success Story
| |
Usia Farida Oeyono
(47) yang akrab dipanggil Afa baru empat tahun saat demam menyerangnya.
Pagi itu, saat bangun tidur tubuh kecilnya panas dingin. Kaki Afa lemah
tak mampu untuk berjalan. Ia tak lagi lincah bermain. Berbulan-bulan
hanya berbaring.
VIRUS POLIO
Afa memutar ingatannya. Tahun 1964, Pangkal Pinang, Bangka, tempat
tinggalnya belumlah seperti sekarang. Saat itu, fasilitas kesehatan
teramat minim. Bahkan, seingat Afa, di sana hanya ada satu dokter.
Akhirnya orangtua membawa Afa ke sinshe, diberi obat masuk angin.
Tak terbayangkan bahwa itu ternyata virus polio. “Kami tinggal di
kampung, jadi kurang informasi kesehatan. Orangtua mengira cuma masuk
angin biasa,” tutur anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Tjen
Sui Ho dan Harjanto Oeyono. Pekerjaan orangtua Afa adalah petani
sederhana dan pedagang es keliling. Mereka sibuk bekerja tiap hari untuk
bisa memenuhi kebutuhan. Oleh sinshe pula, Afa disarankan berobat jalan
dan diterapi di rumah. “Kakek merawat saya hampir setahun. Kaki
direndam air hangat supaya peredaran darah lancar. Kalau pagi, saya
diajak berjemur supaya kena sinar matahari.” Afa belajar berjalan
kembali. Ia membutuhkan bantuan tangan orang lain untuk memegangnya
berjalan. Jalannya tertatih. Langkah demi langkah.
INGIN MANDIRI
1978. Lulus SMEA, Afa nekat keJakarta menyusul kokonya, Muk Sak. Afa
sempat melamar menjadi tukang jahit di perusahaan konveksi.